TIMES BIAK, YOGYAKARTA – Ratusan orang pamong desa dari seluruh wilayah Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) mengikuti Apel Hari Desa Nasional 2026 yang digelar di kawasan Tebing Breksi, Kalurahan Sambirejo, Kapanewon Prambanan, Kabupaten Sleman Yogyakarrta, Kamis (15/1/2026) pagi.
Apel yang berlangsung dalam suasana gerimis ini menjadi momentum konsolidasi pemerintahan desa sekaligus peneguhan peran desa sebagai fondasi pembangunan daerah dan nasional.
Apel tersebut dihadiri langsung oleh Gubernur DIY Sri Sultan Hamengku Buwono X, jajaran Pemerintah Daerah DIY, bupati dan wali kota se-DIY, serta perwakilan kementerian dan lembaga terkait.
Tebing Breksi dipilih sebagai lokasi kegiatan karena dinilai merepresentasikan keberhasilan pengelolaan potensi desa berbasis kearifan lokal dan partisipasi warga.
Pamong Desa se DIY berfoto bersama Sri Sultan hamengkubuwono X usai mengikuti Aple peringatan Hari Desa Nasional 2026 di Tebing Breksi, Kamis (15/1/2026) (Foto: Eko Susanto/TIMES Indonesia)
Berdasarkan data panitia, sekitar 392 lurah dari seluruh kalurahan di DIY hadir dalam apel tersebut, didampingi oleh ratusan Dukuh, termasuk carik, kaur, panewu anom dari berbagai wilayah.
Kehadiran ratusan pamong desa ini menjadikan apel Hari Desa Nasional 2026 sebagai salah satu kegiatan pemerintahan desa terbesar yang pernah digelar di DIY.
Gubernur DIY Tegaskan Posisi Strategis Desa
Dalam amanatnya, Sri Sultan Hamengku Buwono X menegaskan bahwa desa memiliki posisi strategis dalam menjaga kohesi sosial, keberlanjutan budaya, serta ketahanan ekonomi masyarakat.
Menurutnya, pamong desa tidak hanya berperan sebagai pelaksana administrasi, tetapi juga sebagai penggerak nilai, penjaga harmoni, dan teladan di tengah masyarakat.
“Pamong desa harus menjadi contoh dalam integritas, pelayanan, dan keberpihakan kepada rakyat. Desa bukan sekadar unit administratif, melainkan ruang hidup masyarakat yang harus dikelola dengan kejujuran, kebijaksanaan, dan rasa tanggung jawab,” ujar Sri Sultan dalam sambutannya.
Sri Sultan juga mengingatkan agar pemerintahan desa mampu beradaptasi dengan perubahan zaman tanpa kehilangan jati diri. Digitalisasi layanan, keterbukaan informasi, dan pengelolaan dana desa yang akuntabel menjadi pesan utama yang disampaikan kepada para pamong.
“Modernisasi tidak boleh memutus akar budaya. Justru nilai-nilai lokal seperti gotong royong, musyawarah, dan empan papan harus menjadi fondasi dalam setiap kebijakan desa,” tambahnya.
Diramaikan Gelar Potensi UMKM
Peringatan Hari Desa Nasional 2026 di Tebing Breksi juga diramaikan dengan gelar potensi UMKM desa dari seluruh kabupaten dan kota di DIY.
Sri Sultan bersama jajarannya berkeliling melihat stan stan UMKM yang menggelar produk dari desa desa di wilayah DIY. (Foto: Eko Susanto/TIMES Indonesia)
Sedikitnya lebih dari 150 stand UMKM ditampilkan dalam kegiatan tersebut, menampilkan produk unggulan desa mulai dari olahan pangan lokal, kerajinan tangan, batik, produk herbal, hingga hasil pertanian dan peternakan.
Stan UMKM tersebut diisi oleh pelaku usaha desa dari Sleman, Bantul, Kulon Progo, Gunungkidul, serta Kota Yogyakarta. Panitia menyebutkan, gelaran UMKM ini bertujuan untuk memperkuat jejaring ekonomi antardesa sekaligus memperluas akses pasar bagi produk-produk lokal berbasis desa.
Apel Hari Desa Nasional 2026 ditutup dengan peninjauan stan UMKM oleh Sri Sultan Hamengku Buwono X serta dialog singkat dengan para pamong desa dan pelaku UMKM. (*)
Artikel ini sebelumnya sudah tayang di TIMES Indonesia dengan judul: Pamong Desa se-DIY Ikuti Apel Hari Desa Nasional 2026 di Tebing Breksi Sleman
| Pewarta | : Eko Susanto |
| Editor | : Ronny Wicaksono |